Siang ini, ketika dalam perjalanan pulang dari rumah seorang teman, gue melihat kejadian yg membuat gue berpikir panjang. Kecelakaan. Ya, hanya sebuah kecelakaan kecil…
*
Di daerah Arteri, seorang laki-laki terjatuh dari motornya setelah bertabrakan dgn pengemudi lainnya. Sebenarnya dia gak terluka parah, dan orang-orang disekitar pun ikut menolongnya. Akan tetapi sebenarnya hal itu jarang terjadi dan ganjil Karena-nya gue teringat satu hal, dulu kakak gue pernah juga jatuh dari motor. Dia cerita orang-orang disekitar tidak peduli, apalagi menolong. Mereka hanya melihat dari kejauhan, sehingga kakak gue harus berusaha sendiri..
*
Sebenarnya hal itu bukan disebabkan karena ketidakmanusiawian, ketidakpekaan atau ketidakbaik hatian masyarakat sekitar. Namun semua berubah ketika menyangkut satu hal: Uang. Di Indonesia, memang dibuat kebijakan apabila ada orang yg dilarikan ke rumah sakit, bila si korban tidak dapat membayar, maka si pembawa lah yg harus bertanggung jawab akan semua biaya administrasi pengobatan. Tentu saja ini membuat orang enggan untuk menolong. Maka semuanya akan kembali ke kebijakan yg kurang bijak itu, yg mana dibuat oleh pemerintah.
*
Bicara soal pemerintah, mungkin anda yg membaca sudah sadar bahwa belakangan ini di Indonesia banyak sekali fenomena dan kasus-kasus terjadi. Mulai dari yg paling menghebohkan kasus Gayus Tambunan, penggelapan uang Bank Century, politisasi sebuah parpol terhadap federasi sepakbola Indonesia PSSI, kerusuhan berbau SARA di Temanggung, munculnya kontorversi atas berdirinya Liga Primer, 3 bencana alam yg terjadi secara serempak (Gunung Merapi di Yogyakarta, Tsunami di Mentawai, & Banjir di Jakarta), kontroversi issue pemblokiran BlackBerry, demo suporter sepakbola tanah air atas lolosnya Nurdin Halid & Nirwan Bakrie sbg calon Ketum & Waketum baru PSSI (LAGI), hingga fenomena tidak penting seperti pencabutan film Hollywood & film asing di bioskop XXI.
*
Anehnya, carut marut itu malah membuat gue, secara pribadi tidak begitu peduli. Entah kenapa. Apa karena gue sudah pasrah? Apa karena negara ini memang sudah sangat knronis? Atau karena gue sudah terlalu dalam hidup bahagia di dalam khayalan sendiri? Entahlah….
*
Bukannya tidak nasionalis, tapi mungkin karena sudah terlalu banyak dan kronis, gue merasa kasus-kasus diatas sudah sulit disembuhkan. Contohnya sbg salah satu pecinta film Hollywood, sudah pasti gue kontra dgn pencabutan mereka dari bioskop. Meskipun masih ada alternatif lain yaitu DVD, tapi tetap saja film-film seperti Transformers akan sangat tidak seru bila ditonton di TV. Saat mendengar kabar itu, dalam benak gue, “Halah, fenomena negeri ini memang tidak ada habisnya. Biarkan sajalah..”. Atau saat mengetahui NH yg notabene adalah mantan narapidana serta musuh masyarakat, bisa terpilih lg menjadi Ketua PSSI, lagi-lagi gue, “Halah, as long as dia masih punya faktor pendukung internal, jelas aja. Yasudahlah..”
*
Sering gue berpikir, kenapa petinggi-petinggi dan masyarakat yg mengahadapinya mesti berpikir secara rumit. Complicated bahasa kerennya. Yang sudah kaya raya, yasudahlah! Nikmati saja duitmu di penghujung usia, kenapa harus berbuat yg merugikan orang kecil. Tujuh turunan juga kekayaanmu mungkin tidak akan habis, kenapa harus berebut kekuasaan dan takhta disana-sini, hal itu malah rawan menimbulkan konflik yg efeknya besar. Buktinya adalah baru segar gue rasakan kemarin. Gue pergi ke kantor Imigrasi untuk membuat passport. Hell, gue menghabiskan waktu 4 jam disana! Padahal tante gue dulu hanya menghabiskan setengah jam. Ternyata setelah ditanya, proses pembuatan passpor memang menjadi dibuat sangat detail semejak kasus Gayus. Tidak mau namanya tercoreng lebih jauh, mulai sekarang pihak imigrasi tidak bisa memberikan sembarangan ID untuk orang-orang yg tidak jelas tujuannya apa membuat passpor. Contoh lainnya masyarakat yg menentang keras kebijakan pemblokiran BlackBerry. Hingga tidak sedikit yg terbawa emosi mulai mengeluarkan kata-kata kasar untuk si pembuat aturan tsb. Menurut gue hal ini tidak pantas. Menurut pendapat saya pribadi, kenapa harus rumit-rumit? Kalo memang tidak ada BB, kan kita semua bisa kembali bersama-sama ke HP biasa. Memang HP biasa tidak sevariatif BB, tp hal ini gak penting banget gitu loh untuk dijadikan konflik. Lalu apa yg membuat kebijakan pencabutan film asing dari bioskop tidak berfikir, bahwa dgn begitu justru pembajakan DVD semakin merajarela? Padahal salah satu moto negeri ini adalah untuk berkata tidak pada pemalsuan & pembajakan…
*
Akan tetapi dibalik semua ketidak tertarikan gue akan fenomena di Tanah Air yg kucinta ini, sebenernya hati kecil gue menjerit. Uang telah menguasai segalanya. Uang bahkan menguasai hati nurani manusia, yg mana seharusnya menjadi aset paling penting setiap individu untuk dijaga kejernihannya. Karena itu gue akan tetap mencoba untuk membantu bangsa Indonesia walaupun mungkin kecil efeknya. Seperti perkataan Bambang Pamungkas yg kurang lebih berbunyi seperti ini “Apapun jenis profesinya baik rendah maupun tinggi, asal setiap orang berusaha keras, maksimal, dan profesional dalam menjalankannya, maka tanpa sadar mereka sedikit banyak telah membantu bangsa & negara”. Entah kenapa, kata-kata ini langsung melekat di otak gue begitu membacanya, dan sedikit banyak juga telah membantu gue menjalani hidup, serta menjadi panduan dan acuan gue untuk mengejar sukses. Terima kasih ya Mas Bepe! Hehehe.
*
Yang kuharapkan dari seluruh lapisan masyarakat Indonesia adalah, berpikirlah secara simple. Ngapain juga sih ribet-ribet, merugikan diri sendiri dan semua pihak pula. Sesungguhnya hal-hal kecil lah yg akan menimbulkan konflik besar. Jangan sampai kita jadi seperti Mesir, saking muaknya seluruh masyarakatnya sampai turun massal ke jalanan untuk menentang rezim pemerintahnya. Masa sih kita harus revolusi sampe 2 kali..
SALAM INDONESIA!

0 people said:
Post a Comment