Suporter yang Terlanjur Jatuh Cinta


Awalnya, saya menahan diri untuk menulis ini. Sebab, belakangan ini rasanya terlalu mainstream membuat tulisan seputar timnas Indonesia U-19. Namun, pada akhirnya saya toh menyerah. Sebab, saya hanya supporter biasa yang terlanjur bahagia melihat permainan tim Garuda Muda. Saya tak tahan untuk tidak ikut-ikutan menumpahkan perasaan dalam sebuah tulisan..

 *

Mungkin awalnya tidak banyak yang mengenal tim berisikan anak-anak berusia 19 tahun ke bawah ini. Maklum, di negara lain pun timnas junior memang tidak seprestisius timnas senior. Ravi Murdianto, Evan Dimas Darmono, Muchlis Hadi, Hansamu Yama Pranata, Maldini Pali, Pute Gede Juni Antara, Ilham Udin Armayin, Zulfiandi, Muhammad Hargianto, dan sederet nama lainnya hanyalah nama-nama yang asing di telinga masyarakat Indonesia. Setidaknya, sampai pertengahan bulan September lalu.



Pemain-pemain belia ini seketika menjadi bintang setelah suskses mengantarkan Indonesia menjadi kampiun di Piala AFF U-19 2013. Wajar saja, kesuksesan mereka ibarat air yang hadir di padang pasir. Masyarakat Indonesia sudah terlalu lama menunggu hadirnya prestasi. Ujug-ujug prestasi, yang hadir malah carut-marut persepakbolaan nasional. Mulai dari dualisme liga, dualisme kepengurusan, hingga klimaksnya dualisme tim nasional. Dualisme yang terakhir benar-benar enggak banget. It’s like, really? Two national team? Oh man! Tim nasional merupakan tim yang menyatukan pemain-pemain dari seluruh penjuru tanah air. Tak ada ego individu, tak ada ego klub, semua hanya untuk negara. So, ketika tim yang seharusnya jadi pemersatu malah terpecah belah, tak aneh bila kita menyimpulkan persepakbolaan Indonesia sudah di ujung tanduk.

Bak laksana cahaya yang muncul di tengah kegelapan, tim nasional U-19 hadir di sana. Berlebihan? Rasanya tidak. Apabila Anda pencinta sepakbola nasional, Anda pasti tahu betapa kacau, bobrok, busuk, dan suramnya sistem persepakbolaan Indonesia. Sistem yang korup, penuh kongkalikong, sarat politisasi, dan mau menang sendiri. Bayangkan, di tengah-tengah kegelapan itu muncul segelintir pemuda yang sanggup mengukir prestasi. Jadi, rasanya tidaklah berlebihan menyebut mereka sebagai cahaya.

Cahaya tersebut mulai menerangi kegelapan sejak pagelaran Piala AFF bulan September lalu. Setelah tampil impresif, timnas Indonesia U-19 berhasil masuk ke final dan menjadi juara setelah mengalahkan Vietnam lewat drama adu penalti. Sejak saat itu, nama-nama penggawa timnas muda under nineteen mulai dikenal. Masyarakat Indonesia mulai menaruh harapan dan kepercayaan besar di pundak Evan Dimas cs., dan kepercayaan itu pun dibalas sempurna. Timnas Indonesia U-19 berhasil menyapu bersih semua pertandingan kualifikasi Piala Asia U-19. Mulai dari menang 4-0 atas Laos, 2-0 atas Filipina, dan klimaksnya ketika menang 3-2 atas tim kuat Korea Selatan. Bahkan, kemenangan tersebut bukan hanya sekadar menang, tetapi juga diraih lewat performa indah nan menawan.

Jujur, ini pertama kalinya saya melihat timnas Indonesia (baik senior, U-23, maupun kategori lainnya) bermain sebaik itu. Pemain-pemain Garuda Muda bermain dengan penuh percaya diri, determinasi tinggi, tenang, berani, kerja sama yang baik, fisik yang prima, daya juang tinggi hingga akhir, tidak cengeng, dan pantang menyerah. Pada pertandingan melawan Korea Selatan khususnya, kesebelas pemain bak menjelma menjadi seorang Gennaro Gattuso. Bermain seperti badak, penuh kerja keras. Tidak serta merta terjatuh ketika ditekel lawan, tetapi berusaha berdiri kembali sambil mempertahankan bola. Tidak serta merta pasif menunggu datangnya bola, tetapi juga berusaha membloking setiap bola lawan. Betul-betul mendefinisikan bagaimana karakteristik pesepakbola seharusnya. Alhasil, mereka mampu menghasilkan permainan yang begitu rapi dan cantik.

Satu lagi yang patut disoroti, Garuda Muda bermain dengan mengedepankan kolektivitas tim. Namun, yang membuat saya salut adalah mereka tetap mampu unjuk skill individu tanpa harus bermain individualis. Kita bisa lihat bagaimana Putu Gede mentekel bersih lawan lalu menerobos masuk ke area pertahanan Korea dan mengopernya kepada Maldini Pali. Kemudian kita bisa lihat bagaimana seorang Maldini Pali begitu percaya diri unjuk kebolehannya mengontrol bola, melewati 2 bek Korea, hingga akhirnya mampu menerobos area penalti lawan. Kita bisa lihat di sana ia tidak serta merta menendang agar namanya tercatat di papan skor, tetapi memberikan umpan kepada Evan Dimas. Ia ‘merelakan’ kaptennya yang menjadi bintang karena mencetak gol lagi. Kita juga bisa lihat di proses gol ketiga bagaimana Ilham Udin Armayin dengan berani melewati 3 bek Korea sekaligus, kemudian memberikan bola kepada Muchlis Hadi. Di sini lah yang menarik, menurut saya posisi Muchlis sudah ideal untuk menendang. Namun, ternyata Muchlis lebih cerdik. Ia bisa memahami situasi bahwa ada Evan Dimas di sampingnya yang berada dalam posisi lebih siap menendang. Jadilah Muchlis men-chip pelan bola, dan langsung dikonversikan menjadi gol ciamik oleh sang kapten. Mungkin setiap pemain dalam hatinya berpikir, “ah, hasil akhir tim kan jauh lebih penting”. Ya, mengombinasikan skill individu dan kerja sama tim, itulah bagaimana seharusnya sepakbola dimainkan.



Saya benar-benar salut. Mereka seperti tak takut dengan siapapun, bahkan terhadap Korea Selatan yang berstatus juara bertahan dan pengoleksi sederet gelar juara Piala Asia. Mereka bermain begitu all-out. Mereka bermain bola dengan hati. Menurut saya, pelatih Indra Sjafri merupakan kunci dari karakter permainan Garuda Muda. Saya melihat coach Indra adalah orang yang percaya diri, berani, dan memiliki pride tinggi. Hal ini bisa dilihat dari cara ia berkomentar di setiap press-conference. Kata-katanya seperti, “kita akan mengalahkan Korea nanti malam”, “mulai sekarang kita harus berpikir bahwa macan Asia adalah Indonesia”, dan “betul kan, Korea tidak ada apa-apanya” menunjukkan bagaimana pede-nya seorang Indra Sjafri. Idealis? Iya, tapi bagus. Pelatih idealis bisa jadi solusi untuk persepakbolaan kita yang acap rela didikte oleh sistem. Karakter ini lah yang ia tularkan kepada anak asuhnya. Semesta juga seperti sudah mendukung. Pas sekali karena coach Indra melatih anak-anak dengan masa sedang semangat-semangatnya. Hasilnya, permainan Garuda Muda penuh keberanian dan rasa percaya diri.

Saya belum pernah melihat pemain-pemain nasional secara keseluruhan bermain begitu percaya diri ketika mengenakan seragam negara. Selama ini yang saya lihat, banyak pemain Indonesia yang tampil berani dan all-out ketika bermain di klub, tetapi cenderung berhati-hati ketika bermain dengan kostum Merah-Putih. Hal yang wajar sebetulnya, karena membawa nama negara tentu menghasilkan beban yang lebih berat. Namun, tidak untuk anak-anak U-19 ini. Ya pokoknya main aja. Filosofi sederhana, namun menghasilkan sesuatu yang luar biasa: gelar juara dan kebahagiaan masyarakat Indonesia.



Kebahagiaan itu pun bukan hanya karena berhasil meraih kemenangan, tetapi juga karena kita disuguhkan pemandangan menyenangkan di setiap pertandingan: ritual sujud syukur. Bahagia rasanya, melihat para penggawa muda tersebut tidak hanya kuat dalam permainan, tetapi juga kuat dalam karakter. Hampir di setiap pertandingan, setiap kali gol tercipta, para pemain langsung mewujudkan rasa syukurnya sesuai ajaran kepercayaan masing-masing. Pelatih, staff, dan para official team pun melakukan hal serupa di pinggir lapangan. Bahkan, setelah pertandingan melawan Korea Selatan usai, semua elemen tim sujud syukur bersama di lapangan. Mereka tidak lupa bahwa kemenangan diberikan oleh Tuhan Yang Mahakuasa. Sungguh, adalah wajar bilamana rakyat Indonesia begitu menyayangi tim ini.

Selain ritual sujud syukur, ada satu hal yang menarik perhatian saya. Hal sederhana sebenarnya, namun penuh makna. Hal tersebut saya temukan di partai final Piala AFF 2013, ketika Evan Dimas dkk. naik ke atas podium untuk mengangkat piala. Satu per satu pemain naik sembari dikalungi medali oleh pihak penyelenggara dan pejabat PSSI. Ada satu perilaku yang sama dilakukan oleh hampir seluruh pemain: cium tangan. Cium tangan, bukan sekadar bersalaman. Setelah saya telusuri, ternyata mereka juga acap melakukan hal serupa kepada pelatih Indra Sjafri, staff, dan official team. Ketika pulang, pemain-pemain ini juga menyalami dan mencium tangan bapak-bapak atau ibu-ibu warga kampungnya yang dating menyambut. Sungguh mengharukan melihat mereka sangat menghormati orang yang lebih tua. Selama ini kita biasa melihat timnas senior yang tentu hanya bersalaman (tanpa cium tangan) dengan pelatih atau petingginya. Sedangkan yang kita lihat sekarang adalah anak-anak berumur 19 tahun ke bawah yang tak bisa dipungkiri, mereka masih kecil. Masih tertanam kuat di diri mereka nilai-nilai budaya menghormati orang yang lebih tua lewat cium tangan. Anak-anak ini belum (semoga tidak akan pernah) diliputi ego, sekalipun sekarang mereka telah menjadi bintang yang dielu-elukan masyarakat. Ini bukti bahwa Maldini cs. begitu menghormati orang-orang yang lebih tua yang telah membimbing mereka, termasuk pejabat organisasi sepakbola. FYI, saat di podium kemarin, kebanyakan pemain mencium tangan ketika bersalaman dengan Ketua Umum PSSI, Djohar Arifin.

Melihat pemandangan tersebut membuat pikiran saya kembali lagi ke sistem sepakbola kita. Dengan segala kesemrawutan yang ada, tegakah para pengurus PSSI mengecewakan anak-anaknya yang begitu hormat pada mereka? Tegakah mereka menghambat perkembangan potensi anak-anak ini karena sistem sepakbola nasional yang awut-awutan? Entahlah, hanya PSSI sendiri yang bisa menjawab. Sebagai rakyat jelata, saya berharap: semoga tidak.

Namun dengan segala kehebatan mereka, tak bisa dipungkiri, timnas U-19 bisa bermain lepas dan all-out karena mereka juga masih bermain di level junior. Rasanya kurang bijak bila membandingkan mereka dengan timnas senior, karena tekanan dan bebannya tentu berbeda. Namun, yang paling penting adalah bagaimana ke depannya Evan Dimas dkk. mampu mengatasi tekanan yang semakin besar, terutama ketika mereka sudah masuk ke level senior. Ada banyak kekhawatiran yang muncul, bagaimana kalau performa apik penggawa muda ini melempem ketika masuk ke timnas senior? Di sinilah peran PSSI dan Kemenpora dituntut. Mereka harus mampu menjaga Ravi Murdianto cs. berada dalam atmosfer sepakbola yang baik. Jangan sampai mereka menjadi korban seperti yang sudah-sudah; tidak digaji berbulan-bulan oleh klub, diundang makan politisi parpol ini-itu, kasak-kusuk dunia malam, berkelahi antarpemain, atau skandal dengan artis. Harapannya, mereka bisa terus fokus membawa nama baik tim nasional Indonesia.




Para pemain timnas U-19 saat ini ibarat kertas putih yang masih bersih. Seperti apa ke depannya, tergantung mereka sendiri dan orang-orang di sekelilingnya mau menulis apa. Perjalanan Evan Dimas dkk. masih sangat panjang. Bukan titel juara lah yang semata-mata diharapkan masyarakat Indonesia, tetapi juga kematangan mereka. Kematangan yang diharapkan di masa depan mampu membawa Garuda mengukir prsestasi demi prestasi. Di umur semuda itu, pemain-pemain timnas U-19 sudah menunjukkan performa impresif, skill ciamik, dan kekompakan tim yang baik. Ditambah mereka dilatih oleh seorang pelatih hebat yang berkarakter dan idealis. Tak heran mereka menjadi buah optimisme masyarakat Tanah Air, tak heran pula mereka sangat menjadi kebanggan masyarakat di daerah asal mereka masing-masing. Apabila dibina dan dijaga dengan baik, bukan tak mungkin anak-anak muda ini menjelma menjadi macan-macan sepakbola Indonesia. Macan-macan yang mampu menunjukkan taringnya di level internasional. Duh, saya jadi tidak sabar..

Mungkin Anda yang membaca tulisan ini ada yang merasa saya berlebihan mengagumi tim nasional Indonesia U-19. Apa boleh buat, saya hanyalah supporter biasa yang sudah terlanjur jatuh cinta pada permainan mereka. Permainan impian yang akhirnya muncul selama tujuh tahun saya mencintai sepakbola. Saya (dan pasti seluruh masyarakat Indonesia) sangat berharap performa Evan Dimas dkk. bisa terus seperti ini, bahkan terus meningkat sampai di level senior. Semoga mereka juga tidak cepat puas, sehingga terus berlatih agar semakin berkembang. Pemain-pemain hebat di timnas senior pun mungkin sudah tak sabar menunggu untuk bermain bersama para pesepakbola muda ini. Ah, andai kalian tahu, betapa besar harapan masyarakat Indonesia terhadap kalian…

 *

Timnas U-19 sukses membuat saya menjadi orang yang mainstream. Saya akhirnya ikut-ikutan mencurahkan puja-puji dan optimisme terhadap mereka melalui tulisan, seperti kebanyak orang belakangan ini. Sekali lagi, apa boleh buat, saya hanyalah suporter biasa yang terlanjur jatuh cinta pada permainan timnas Indonesia U-19 kemarin. Suporter yang terlalu mencintai tim nasional Indonesia, suporter yang terlalu mencintai sepakbola Indonesia..

Finally, I'd reached it..

Sampai detik ini, aku terkadang masih tak percaya.. Sampai detik ini, aku terkadang masih terpana.. Puji syukur aku panjatkan hanya kepada Allah SWT yang telah merealisasikan perjuangan dan doaku selama ini. Ya, perjuangan yang begitu panjang. Perjuangan yang sebelumnya aku ragukan potensi keberhasilannya. Perjuangan yang aku mulai dari nol. Perjuangan yang -menurut penilaian orang lain- telah memunculkan sisi lain dalam diriku. Perjuangan yang aku jalani bersama sahabat-sahabat seperjuangan.. Perjuangan yang tentunya penuh kegalauan. Perjuangan yang membantuku menemukan jati diri. Perjuangan yang tak jarang pula menimbulkan konflik. Perjuangan yang namun juga mempersatukan. Semuanya berujung indah pada tanggal 6 Juli 2012, salah satu hari teremosional dalam sejarah hidupku.

Alhamdulillahirabbilalamin, aku diterima sebagai mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Indonesia 2012. Aku tak menyangka bahwa hal ini dapat membuat Mama, yang selama ini tidak begitu peduli dengan pencapaian akademikku, menangis. Aku tak menyangka hal ini dapat membuat Papa, yang sedari kecil tidak pernah menuntut apa-apa soal prestasi akademik, bangga. Berlebihan? Awalnya aku pun menganggap begitu. Akan tetapi, bila itu dapat membahagiakan kedua orangtuaku, rasanya wajar bila aku pun ralut dalam euforia tersebut. Namun, disamping itu semua, sesungguhnya yang paling emosional dari diterimanya diriku di kampus rakyat itu adalah tentang hubunganku dengan-Nya.

Semua itu dimulai dari awal kelas 3 SMA. Aku tertegun ketika membaca sebuah novel berjudul "L" karya Kristy Nelwan. Di novel tersebut, dikisahkan tokoh bernama Rei yang menemukan makna hubungannya dengan Tuhan justru ketika mendapat kebahagiaan melihat Ibunya senang mendapat kado darinya, bukan kesengsaraan. Jujur, disitu aku merasa seperti ditampar. Aku malu. Tak bisa dipungkiri, aku adalah salah satu orang yang cenderung mengahadapnya ketika mengalami kesulitan. Justru cenderung mengabaikannya ketika sedang bersukacita. Lalu aku tersadar, betapa sombongnya aku ini. Sejak saat itu, aku bertekad untuk selalu berbagi kepada-Nya setiap mendapatkan kebahagian, sekecil apapun itu. 

Kembali ke korelasi antara diterimanya diriku di UI dengan hubungan terhadap-Nya. Kelas 3 SMA adalah awal perjuanganku menuju Perguruan Tinggi Negeri. Aku mulai mengaplikasikan tekadku. Aku selalu memulai suatu ujian, baik ulangan harian, UTS, UAS, dsb. dengan doa, setelah belajar tentunya. Alhamdulillah, hasilnya pun sering memuaskan. Disitu aku merasakan kepuasan yang berbeda. Entah mengapa, aku merasa begitu lega ketika selesai mengerjakan dan mendapatkan hasilnya. Rasanya, semua berjalan lebih ringan ketika melakukan suatu pekerjaan dengan seimbang, yakni berusaha dan berdoa. Namun, aku belum bisa menghilangkan sifat burukku yang sering menyalahkan faktor teknis ketika mendapatkan nilai jelek, yang paling sering ialah menyalahkan proses scanning Lembar Jawaban Komputer. Aku adalah tipe orang yang penakut terhadap hal-hal yang sebetulnya tidak perlu ditakutkan. Sepanjang 6 bulan terakhir di SMA, aku selalu dilanda rasa cemas akan kondisi LJK-ku akankah terbaca oleh komputer atau tidak. Sedikit demi sedikit hal itu dapat kuminimalisir dengan doa, walaupun tidak sepenuhnya hilang.

Aku sebetulnya juga pesimistis apakah aku sanggup mempelajari semua materi pelajaran untuk Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi (SNMPTN) yang begitu banyak. Aku juga pesimis apakah sanggup menembus ribuan saingan dengan (lagi-lagi) lembar jawaban komputer. Sangat banyak faktor X dan faktor Y yang dapat membuat kita tergelincir. Namun, kembali lagi, Allah adalah jawaban atas semuanya. Aku terus mencoba untuk memulai segalanya dengan  memohon dan mengakhirinya dengan bersyukur. Sampai tiba waktunya hari H SNMPTN, aku pun mengerjakan semuanya dengan semampuku atas usaha maksimal yang bisa aku lakukan selama ini dan menyerahkannya kepada Allah SWT. Semua keraguanku sedari kecil akan faktor teknis tersebut sirna ketika aku membuka website hasil seleksi SNMPTN. Aku tersadar bahwa Allah tidak perlu diragukan kekuasannya. Ketakutanku selama ini terbantahkan. Bila Allah telah mengizinkan, Ia akan membuktikan bahwa sesuatu yang tidak mungkin bisa menjadi mungkin. Sekali lagi, kita hanya perlu melakukan dua hal dalam hidup ini untuk mencapai sesuatu: berusaha & berdoa. Lakukan dengan seimbang. As simple as that. Aku sangat bersyukur, momen menuju UN & PTN ini mendekatkanku lebih dalam pada-Nya.

Di samping soal spiritualitas, boleh jadi perjuangan itu jua menyentuh sisi hablum minannas kehidupanku. Belajar bersama-sama kawan-kawan seperjuangan membuat kami lebih akrab dari sebelumnya. Diriku juga jadi lebih mengenal teman-temanku, guru-guruku, dan pihak lain yang terkait. Begitu juga sebaliknya. Aku banyak mendapatkan pelajaran dan pengalaman selama berinteraksi dengan begitu intens dengan mereka semua. Aku pun mendapat banyak feedback dari orang-orang disekitar, baik positif maupun negatif, dengan tujuan membangun. Galau, senyum, berbagi cerita, sedih, maupun tertawa bersama telah menjadi bagian tersendiri yang akan mengisi sebagian dari memori dan hatiku. Entah mengapa, aku menikmati itu semua. Walaupun perjuangan itu menghasilkan akhir yang berbeda-beda pada kami semua, walaupun tidak semua berakhir indah, tetapi proses dan perjalanan menuju akhir itulah yang menjadi esensinya.

Untuk kawan-kawan seperjuanganku di kelas XII IPS A,
Untuk guru-guruku di SMA Negeri 78 Jakarta,
Untuk kawan-kawan seperjuanganku di Rumah Belajar O-Friends,
Untuk pengajar-pengajar yang begitu sabar mengahadapiku di Rumah Belajar O-Friends,

Terserah mau bilang diriku lebay atau apapun. Akan tetapi, percayalah. Untuk seluruh aspek kehidupanku, 6 bulan terakhir di masa SMA tersebut akan selalu menjadi momen yang paling menguras emosi dan melelahkan, tetapi sekaligus menjadi momen yang paling membahagiakan.

Mahkota Kehidupan

Seperti apa sih pribadi yang unggul itu? Pekerja keras, penyabar, pintar, ramah, supel, atau baik terhadap semua orang? Semuanya benar. Bila digali lebih dalam, masih banyak lagi karakter-karakter positif yang dapat menjadikan seorang individu bernilai plus. Tetapi tanpa disadari, semua hal diatas tidak ada gunanya bila tidak diiringi dengan satu karakter manusia terpenting dalam hidup ini, yaitu Kejujuran.

*

Jujur pada diri sendiri sejatinya lebih sulit dibanding kepada orang lain. Ketika dihadapkan pada pilihan atau persoalan yang rumit, sebenarnya hati kecil kita, yaitu pikiran bawah sadar kita pasti memilih. Kita pun sebenarnya tahu akan hal itu. Tetapi seringkali kita menyangkalnya dengan menumpuk pilihan si hati kecil ini dengan hal-hal emosional. Ya, emosi memang bisa mengalahkan segalanya..

*

Kejujuran pada orang lain juga tak kalah dilema. Mengatasnamakan kedok ‘takut menyinggung perasaan’, orang lebih memilih untuk tidak mengungkapkan kenyataan untuk menjaga perasaan si lawan bicara yang bersangkutan. Hal ini betul adanya, dan tujuannya pun mulia. Berbohong-bohong kecil memang tidak menimbulkan dampak besar, tapi bila terbiasa, tidak menutup kemungkinan akan menuntun kita ke kebohongan yang lebih besar lagi bukan?

*

Mungkin inilah jawaban dari istilah Diam Itu Emas. Diam akan menjadi tindakan yang sangat tepat bila dilakukan pada saat yang tepat pula. Ketika kita dihadapkan pada pilihan sulit apakah harus berbohong untuk menjaga perasaan orang lain, atau harus berkata jujur, diam adalah solusinya. Jangan salah mengartikan, diam disini bukan berarti mengunci mulut dan tidak menjawab pertanyaan orang lain. Itu akan menjadi tidak sopan. Diam disini adalah semaksimal mungkin untuk tetap berada pada posisi netral, tidak memberikan jawaban yang cenderung mengarahkan kita pada posisi berbohong atau benar. Bila dimungkinkan, sedikit menghindar boleh jua dicoba. Intinya, carilah jawaban alternatif yang menimbulkan dampak negatif paling sedikit.

*

Salah satu sifat terpuji Nabi Muhammad SAW yang paling dibanggakan oleh seluruh umatnya adalah Al-Amin, artinya Jujur. Fakta ini membuktikan bahwa kejujuran merupakan salah satu kunci terpenting menjalani kehidupan ini. Sudah sepantasnya seluruh masyarakat bangsa Indonesia ini meniru keteladanan Nabi Muhammad. Terutama untuk para petinggi Negeri ini, sesungguhnya hanya kejujuran lah yang diinginkan rakyatmu selama ini.

*

Kejujuran itu dapat dianalogikan seperti sebuah kertas. Sekali saja lecak, semaksimal apapun dihaluskan, kertas itu tidak akan pernah kembali ke bentuk semula. Sekali saja orang berbohong, terutama untuk hal-hal fatal, mengembalikan kepercayaan orang lain terhadapnya tidak akan semudah membalikkan telapak tangan.

*

Mungkin setelah membaca artikel sampai baris ini, Anda berpikir “Hari gini masih polos? Jaman sekarang nggak bisa survive kalau nggak licik”. Dua hal ini berbeda. Polos adalah berbicara apa adanya tanpa memperhatikan efek di sekitarnya. Sedangkan kejujuran yang baik selalu mempertimbangkan baik dan buruk dampak yang akan terjadi ketika akan mengungkapkan fakta. Bila sudah memiliki niat baik, InsyaAllah akan diiringi dengan hasil baik pula.

*

Seperti dikatakan dalam artikel ini, sifat jujur adalah mahkota kehidupan. Kejujuran adalah sifat mulia untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan di dunia maupun akhirat. Bila setiap aktivitas yang kita laksanakan setiap hari dilandasi oleh kejujuran, itu artinya kita telah selangkah lebih maju untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Amin.

Profesionalisme

Sebuah kata yang mungkin bagi sebagian besar orang hanya gabungan beberapa huruf yang apalah itu maknanya. Tapi bagi saya, satu kata ini adalah segala nya. Kunci sukses. Ya, sebuah kunci untuk menuju kesuksesan di segala sendi-sendi kehidupan...

*

Alasan saya menulis artikel ini sebenarnya karena belakangan ini saya selalu menemukan atau mendengar kata profesionalisme dimana-mana, tentu saja secara tidak sengaja. Mungkin sebelumnya sudah saya singgung di posting sebelumnya, ketika membaca blog Bambang Pamungkas, saya menemukan kalimat - yang entah mengapa selalu melekat di hati saya - kira-kira berbunyi: "Apapun jenis profesinya, asal setiap orang berusaha keras, maksimal, dan profesional dalam menjalankannya, maka sejatinya mereka sedikit banyak telah membantu bangsa & negara". Sejenak saya berpikir, coba bayangkan bila setiap manusia bekerja maksimal dalam setiap komponen pekerjaannya, tanpa kecurangan atau rasa malas, pastinya dunia akan menjadi tertib. Sekecil atau setidak prestisius apapun jenis profesinya, coba bayangkan bila mereka tetap semangat dan maksimal menjalaninya, secara tidak langsung mereka akan meraih jabatan yang lebih tinggi lagi. Itulah arti profesional.

*

Kalimat Bepe tsb. diikuti kisahnya, kala itu ia harus menerima keputusan pahit Alfred Riedl yang membangku-cadangkannya selama Piala AFF 2010. Sebagai pemain senior wajar saja bila dia ngambek atau malah bisa-bisa keluar timnas, pikir saya waktu itu. Akan tetapi diluar dugaan, Bepe malah menerima dengan lapang dada keputusan pelatih asal Austria itu. Cerita itu diiringi sebuah kalimat yang lagi-lagi, membuat saya tersenyum: "Karena memang begitulah cara kerja orang-orang profesional.".

*

Masih dari sudut pandang sepakbola, belakangan banyak dikabarkan salah satu klub ISL, Arema Indonesia mengalami masalah krisis finansial dan kekacauan internal. Berhubung Arema adalah klub favorit saya, saya pun heran. Saya pun teringat kasus tertundanya pembayaran gaji pemain selama 2,5 bulan ini sudah mulai terjadi sejak musim lalu, yang saya herankan adalah, kenapa pemain-pemain Arema tidak pernah mengeluh? Jarang terdengar kabar mereka mogok main atau ingin hengkang karena tidak mendapat haknya. Ya, mereka sudah menunjukkan jiwa profesionalisme. Sebelum menulis post ini, saya sedang menonton pertandingan Arema vs klub Korea (lupa namanya) di Korea dalam ajang AFC Cup. Bung Towel dengan cerdasnya berkata seperti ini: "Kita harus salut ya sama Arema. Meski sudah tidak ada peluang untuk lolos, mereka tetap datang ke Korea. Padahal keadaan tim sedang sangat tidak kondusif. Tapi itulah yang memang harus mereka lakukan sebagai pesepakbola profesional. Setuju, Bung!

*

Seakan mendapatkan hidayah, ketika menonton serial TV favorit saya, How I Met Your Mother, saya mendapatkan kesimpulan. Pemeran utamanya yang bernama Ted Mosby menceritakan temannya Robin. He said: "Robin had always believe that the key to success was intelligence, hard work, and profesionalism". It's so true! Kesimpulan yang sempurna. Disitu juga diceritakan bahwa Robin bekerja sebagai pembawa acara berita pagi (pukul 4 pagi) di sebuah stasiun TV. Pekerjaan yang enggak banget buat anchor sekelas dia. Akan tetapi, disitulah jiwa profesionalitasnya. Robin tetap kerja maksimal, walaupun sedikit sekali warga New York yang menonton program tsb (secara jam 4 pagi).

*

Profesional adalah menjalani setiap pekerjaan yang telah kita pilih dengan maksimal, tanggung jawab, dan kerja keras. Percayalah, profesionalisme akan membawa kita ke kesuksesan. Memang tidak mudah, saya pun masih belum bisa seperti itu di setiap pekerjaan yang saya lakukan. Kelemahan saya adalah ego yang cukup tinggi. Bila pekerjaan saya tidak begitu dilihat atau dihargai, biasanya saya akan malas-malasan. Akan tetapi mulai sekarang akan saya coba rubah sedikit demi sedikit. Profesionalisme adalah nomor satu. Tapi itu semua tidak akan begitu terlihat manfaatnya bila hanya saya seorang. Bagaimana kalau Anda juga?

CINTA

Cinta adalah merelakan orang yang kita sayangi bahagia, meskipun bukan dengan kita. Mendoakannya agar terus diberkahi kebaikan dan dilancarkan segala jalan kehidupannya. Serta terus mendukung cita-cita nya, meskipun hanya lewat doa. Walaupun tidak terbalas, kita akan terus mencintainya apapun yang terjadi.

As long as you happy, I'm happy for you too.




I believe in The One.. That the one is YOU.

Indonesia, Oh Indonesia…

Siang ini, ketika dalam perjalanan pulang dari rumah seorang teman, gue melihat kejadian yg membuat gue berpikir panjang. Kecelakaan. Ya, hanya sebuah kecelakaan kecil…

*

Di daerah Arteri, seorang laki-laki terjatuh dari motornya setelah bertabrakan dgn pengemudi lainnya. Sebenarnya dia gak terluka parah, dan orang-orang disekitar pun ikut menolongnya. Akan tetapi sebenarnya hal itu jarang terjadi dan ganjil Karena-nya gue teringat satu hal, dulu kakak gue pernah juga jatuh dari motor. Dia cerita orang-orang disekitar tidak peduli, apalagi menolong. Mereka hanya melihat dari kejauhan, sehingga kakak gue harus berusaha sendiri..

*

Sebenarnya hal itu bukan disebabkan karena ketidakmanusiawian, ketidakpekaan atau ketidakbaik hatian masyarakat sekitar. Namun semua berubah ketika menyangkut satu hal: Uang. Di Indonesia, memang dibuat kebijakan apabila ada orang yg dilarikan ke rumah sakit, bila si korban tidak dapat membayar, maka si pembawa lah yg harus bertanggung jawab akan semua biaya administrasi pengobatan. Tentu saja ini membuat orang enggan untuk menolong. Maka semuanya akan kembali ke kebijakan yg kurang bijak itu, yg mana dibuat oleh pemerintah.

*

Bicara soal pemerintah, mungkin anda yg membaca sudah sadar bahwa belakangan ini di Indonesia banyak sekali fenomena dan kasus-kasus terjadi. Mulai dari yg paling menghebohkan kasus Gayus Tambunan, penggelapan uang Bank Century, politisasi sebuah parpol terhadap federasi sepakbola Indonesia PSSI, kerusuhan berbau SARA di Temanggung, munculnya kontorversi atas berdirinya Liga Primer, 3 bencana alam yg terjadi secara serempak (Gunung Merapi di Yogyakarta, Tsunami di Mentawai, & Banjir di Jakarta), kontroversi issue pemblokiran BlackBerry, demo suporter sepakbola tanah air atas lolosnya Nurdin Halid & Nirwan Bakrie sbg calon Ketum & Waketum baru PSSI (LAGI), hingga fenomena tidak penting seperti pencabutan film Hollywood & film asing di bioskop XXI.

*

Anehnya, carut marut itu malah membuat gue, secara pribadi tidak begitu peduli. Entah kenapa. Apa karena gue sudah pasrah? Apa karena negara ini memang sudah sangat knronis? Atau karena gue sudah terlalu dalam hidup bahagia di dalam khayalan sendiri? Entahlah….

*

Bukannya tidak nasionalis, tapi mungkin karena sudah terlalu banyak dan kronis, gue merasa kasus-kasus diatas sudah sulit disembuhkan. Contohnya sbg salah satu pecinta film Hollywood, sudah pasti gue kontra dgn pencabutan mereka dari bioskop. Meskipun masih ada alternatif lain yaitu DVD, tapi tetap saja film-film seperti Transformers akan sangat tidak seru bila ditonton di TV. Saat mendengar kabar itu, dalam benak gue, “Halah, fenomena negeri ini memang tidak ada habisnya. Biarkan sajalah..”. Atau saat mengetahui NH yg notabene adalah mantan narapidana serta musuh masyarakat, bisa terpilih lg menjadi Ketua PSSI, lagi-lagi gue, “Halah, as long as dia masih punya faktor pendukung internal, jelas aja. Yasudahlah..”

*

Sering gue berpikir, kenapa petinggi-petinggi dan masyarakat yg mengahadapinya mesti berpikir secara rumit. Complicated bahasa kerennya. Yang sudah kaya raya, yasudahlah! Nikmati saja duitmu di penghujung usia, kenapa harus berbuat yg merugikan orang kecil. Tujuh turunan juga kekayaanmu mungkin tidak akan habis, kenapa harus berebut kekuasaan dan takhta disana-sini, hal itu malah rawan menimbulkan konflik yg efeknya besar. Buktinya adalah baru segar gue rasakan kemarin. Gue pergi ke kantor Imigrasi untuk membuat passport. Hell, gue menghabiskan waktu 4 jam disana! Padahal tante gue dulu hanya menghabiskan setengah jam. Ternyata setelah ditanya, proses pembuatan passpor memang menjadi dibuat sangat detail semejak kasus Gayus. Tidak mau namanya tercoreng lebih jauh, mulai sekarang pihak imigrasi tidak bisa memberikan sembarangan ID untuk orang-orang yg tidak jelas tujuannya apa membuat passpor. Contoh lainnya masyarakat yg menentang keras kebijakan pemblokiran BlackBerry. Hingga tidak sedikit yg terbawa emosi mulai mengeluarkan kata-kata kasar untuk si pembuat aturan tsb. Menurut gue hal ini tidak pantas. Menurut pendapat saya pribadi, kenapa harus rumit-rumit? Kalo memang tidak ada BB, kan kita semua bisa kembali bersama-sama ke HP biasa. Memang HP biasa tidak sevariatif BB, tp hal ini gak penting banget gitu loh untuk dijadikan konflik. Lalu apa yg membuat kebijakan pencabutan film asing dari bioskop tidak berfikir, bahwa dgn begitu justru pembajakan DVD semakin merajarela? Padahal salah satu moto negeri ini adalah untuk berkata tidak pada pemalsuan & pembajakan…

*

Akan tetapi dibalik semua ketidak tertarikan gue akan fenomena di Tanah Air yg kucinta ini, sebenernya hati kecil gue menjerit. Uang telah menguasai segalanya. Uang bahkan menguasai hati nurani manusia, yg mana seharusnya menjadi aset paling penting setiap individu untuk dijaga kejernihannya. Karena itu gue akan tetap mencoba untuk membantu bangsa Indonesia walaupun mungkin kecil efeknya. Seperti perkataan Bambang Pamungkas yg kurang lebih berbunyi seperti ini “Apapun jenis profesinya baik rendah maupun tinggi, asal setiap orang berusaha keras, maksimal, dan profesional dalam menjalankannya, maka tanpa sadar mereka sedikit banyak telah membantu bangsa & negara”. Entah kenapa, kata-kata ini langsung melekat di otak gue begitu membacanya, dan sedikit banyak juga telah membantu gue menjalani hidup, serta menjadi panduan dan acuan gue untuk mengejar sukses. Terima kasih ya Mas Bepe! Hehehe.

*

Yang kuharapkan dari seluruh lapisan masyarakat Indonesia adalah, berpikirlah secara simple. Ngapain juga sih ribet-ribet, merugikan diri sendiri dan semua pihak pula. Sesungguhnya hal-hal kecil lah yg akan menimbulkan konflik besar. Jangan sampai kita jadi seperti Mesir, saking muaknya seluruh masyarakatnya sampai turun massal ke jalanan untuk menentang rezim pemerintahnya. Masa sih kita harus revolusi sampe 2 kali..


SALAM INDONESIA!

YOU

How are you...?
Don't you remember me at all now...?
For many years, yes I didn't see it, but I could feel it...
I bet you've same...
You're just too introvert, like me.
I never forget even a little of ours...

Long time no see...
A lot of people passed in my life,
but it never be the same like you...

You're just too different.
You're just too have a lot of mystery.
You're just too awesome.
You're just too adorable just the way you are.
You're just too you.

You've gone without saying goodbye...
But this is why you different,
I couldn't even hate you.

I could forget you,
only for a moment, change it to the others.
Although finally, mine is come back for you again.

I promise, you'll never be disappeared.
That's what we called everlasting.
I thought I just found mine.
Thanks, thief!

Everyone has their own the one.